• 021 756 0536
  • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

BPPT Perkuat Kerjasama dengan Qingdao Vland Biotech Untuk Hasilkan Inovasi Berkelanjutan


BPPT, TIONGKOK - Teknologi dan inovasi merupakan aspek yang tidak dapat dipisahkan dari sektor target pemerintahan dan diyakini mampu mendorong terwujudnya pembangunan yang berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). 

Menjadi salah satu prioritas program pemerintah dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010 2020-2024, pembangunan berkelanjutan tentunya memerlukan berbagai aspek pendorong. Sebagai lembaga pemerintahan non kementerian, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) terus berupaya mengembangkan teknologi dan menghasilkan inovasi yang mampu mendorong mensukseskan program-program pemerintah.

Oleh karena itu, dalam mendorong pengimplementasian tersebut, maka BPPT mengembangkan konsep yang mempertimbangkan aspek '5P', yakni Partnership, Planet, Prosperity, People dan Peace. Satu diantaranya adalah melalui penerapan teknologi enzim sebagai inovasi yang ~diyakini mampu mewujudkan~ proses produksi berbasis green technology atau teknologi produksi ramah lingkungan. Inovasi satu ini juga diharapkan bisa memberikan kontribusi dalam upaya pencapaian pembangunan yang berkelanjutan.

Upaya dalam menerapkan produk ramah lingkungan dan berkelanjutan ini pun dilakukan BPPT melalui kerjasama dengan perusahaan asal Tiongkok, Qingdao Vland Biotech Group Co. Ltd. Nota Kesepahaman (MoU) tentang 'Penelitian Bersama dan Alih Teknologi untuk Inovasi Berkelanjutan' dengan perusahaan tersebut pun ditandatangani oleh Kepala BPPT Hammam Riza dan Vice President Qingdao Vland Biotech group Co. Ltd Huaming Wang di Qingdao, Tiongkok, Rabu (25/9/2019) waktu setempat.

 

Dalam agenda tersebut, Hammam pun menyampaikan bahwa kerjasama dalam bidang bioteknologi antara BPPT dan perusahaan tersebut telah terjalin sebelumnya. Penandatanganan MoU kali ini merupakan langkah untuk memperkuat kerjasama, khususnya terkait pengembangan teknologi enzim.

"Jadi, MoU yang baru saja kami tanda tangani adalah untuk memperbaharui dan memperkuat kerja sama kami di bidang bioteknologi, terutama untuk pengembangan teknologi enzim melalui penelitian bersama dan transfer teknologi," ujar Hammam, dalam sambutannya. 

Hammam menambahkan, sebagai salah satu lembaga penelitian pemerintah, BPPT memiliki tugas mendasar untuk melakukan penilaian dan penerapan teknologi yang diwujudkan melalui inovasi dan layanan teknologi.

"Dalam melakukan tugas-tugas ini, BPPT memiliki 7 (tujuh) peran yakni teknik, intermediasi, kliring teknologi, audit teknologi, transfer teknologi, difusi, dan komersialisasi," jelas Hammam.

Sebagai akselerator dalam pembangunan ekonomi, promosi inovasi teknologi itu pun terus digaungkan BPPT melalui semangat 'Solid, Smart, Speed'.

"Ini membuat BPPT bekerja lebih fokus pada aspek hilir dan didukung dengan teknologi terapan yang kuat," kata Hammam.

Oleh karena itu, dalam mendorong terwujudnya pembangunan ekonomi secara berkelanjutan, upaya yang dilakukan BPPT saat ini adalah mempererat kerjasama dengan industri bioteknologi.

"Untuk mencapai tujuan ini, BPPT harus semakin dekat dengan industri dan melakukan kerja sama timbal balik untuk menghasilkan inovasi. Termasuk kerja sama kami dengan Vland Biotech yang telah berlangsung selama beberapa tahun," papar Hammam.

Hammam menjelaskan bahwa inovasi berkelanjutan merupakan masalah yang penting dan strategis. Hal itu mengacu pada isu yang dianggap memiliki keterkaitan dalam aspek dukungan terhadap program dunia mengenai tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), seperti yang menjadi fokus di Indonesia dan Tiongkok.

Hammam pun secara tegas menekankan bahwa inovasi berkelanjutan menjadi 'denyut nadi' dalam upaya peningkatan produktivitas melalui penerapan teknologi ramah lingkungan. Seperti yang menjadi fokus dalam RPJMN 2020-2024 pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Pemerintah kita memiliki fokus pada tujuan pembangunan berkelanjutan seperti yang disebutkan dalam Rencana Pembangunan Menengah 2020- 2024. Inovasi berkelanjutan harus dapat meningkatkan produktivitas dan nilai tambah, tanpa merusak lingkungan dan mengurangi kualitas hidup," tegas Hammam.

Berbagai aspek pun diperhatikan dalam mewujudkan pembangunan melalui inovasi berkelanjutan di masa mendatang. Mulai dari mempertimbangkan peningkatan produktivitas, efisiensi hingga melakukan produksi yang ramah lingkungan. Satu diantaranya, dengan memanfaatkan penerapan teknologi enzim.

"Industri masa depan juga harus menggunakan dan menerapkan teknologi hijau, dan salah satu caranya adalah dengan menggunakan teknologi enzim untuk mendapatkan produksi pengolahan yang bersih dan ramah lingkungan," tutur Hammam.

Hammam kemudian memaparkan bahwa industri bioteknologi besar seperti Vland Biotech memiliki peran kuat dalam bidang satu ini, "Vland Biotech juga menjadi salah satu produsen enzim terbesar di Tiongkok, sehingga BPPT telah memilih mitra yang tepat untuk pengembangan teknologi enzim,".

Di Indonesia, banyak enzim yang digunakan dan diterapkan dalam dunia industri, seperti industri pulp dan kertas, kulit, tekstil, kimia, makanan dan pakan. Permintaan enzim industri pun tumbuh sekitar 5 - 6% per tahunnya dan cenderung meningkat setiap tahun, mengikuti aplikasi enzim yang semakin beragam dan lebih luas dalam dunia industri. Semua enzim industri sebagian besar masih diimpor dari Eropa, Cina dan India. Enzim pakan menjadi konsumsi terbesar di Indonesia, konsumsinya sekitar 3880 ton per tahun dan menyumbang sekitar Rp 270 miliar.

BPPT pun saat ini memiliki perantara, yakni PT. Pachira Distrinusa dan Vland Biotech dalam rangka membangun industri enzim, "Dengan enzim pakan merupakan produk enzim pertama yang melibatkan BPPT untuk transfer teknologi untuk produksi komersial,".

Untuk uji pasar, BPPT dan Pachira sedang melakukan pengujian demi memperoleh gambaran bisnis dalam mendukung pembentukan industri enzim. Selain melakukan uji pasar dengan Pachira itu, staf BPPT pun mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan industri di pabrik enzim milik Vland Biotech pada tahun lalu.

"Saya berharap kerjasama antara BPPT, Pachira Distrinusa dan Vland Biotech dapat mempercepat kehadiran industri enzim pertama di Indonesia, untuk mendukung pencapaian kemandirian enzim nasional," pungkas Hammam.

Perlu diketahui, kerjasama antara BPPT dan Qingdao Vland Biotech group Co. Ltd telah dimulai sejak Maret 2016 lalu. Saat itu MoU pertama ditandatangani oleh mantan Kepala BPPT Unggul Priyanto di kota yang sama di negeri tirai bambu itu. Penguatan kerjasama melalui penandatangan MoU tersebut diharapkan mampu meningkatkan dorongan dalam melahirkan inovasi yang dapat menghela pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

buy cheap tamoxifen buy anastrazole without prescription

 

 

 

 


© 2019 Design by Pusat Manajemen Informasi & Bioindustri - BPPT