• 021 756 0536
  • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

PRESS RELEASE : Cegah Karhutla dengan Solusi Biopeat


Bencana kebakaran hutan dan lahan menjadi bencana terburuk sepanjang tahun 2019 di Indonesia. Luasnya area terdampak bencana karhutla, sangat menimbulkan keprihatinan nasional bahkan regional. Bencana karhutla yang terjadi berulang di sepanjang tahun, belum ada solusi selain memadamkan api dan pemerintah selalu terlambat untuk mengatasinya. Sejatinya bencana karhutla dapat dimitigasi dengan baik, mengingat faktor penyebab utamanya adalah ulah manusia dan diantaranya akibat pola pemanfaatan lahan oleh masyarakat yang membakar lahan sebelum bercocok tanam.

Lahan gambut adalah lahan marginal yang potensial untuk ditanami, namun perlu pembenah tanah agar lahan gambut siap untuk ditanami. Indonesia memiliki lahan gambut sangat luas, keempat terbesar di dunia (20,6 juta Ha) dan sekitar 25% nya berada di wilayah Sumatera. Namun berbagai kendala seperti karakteristik lahan gambut yang memiliki pH sangat rendah menjadikan lahan gambut sulit digunakan sebagai lahan pertanian yang produktif. Jika keliru dalam pengelolaannya, seperti membuka lahan dengan cara membakar dan sebagainya, pemanfaatan lahan gambut bisa memicu permasalahan serius seperti kebakaran dan pencemaran udara. Untuk itu diperlukan terobosan teknologi yang aman dan berkelanjutan untuk dapat memanfaatkan lahan gambut sebagai lahan produktif.

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) punya solusi mitigasi karhutla yang spotnya sering terjadi di lahan gambut. Inovasi teknologi Biopeat siap untuk mendukung pertanian di lahan gambut. Melalui rekayasa bioteknologi dengan memanfaatkan mikroorganisme lokal (indigenous), pembenah tanah hayati Biopeat dapat memperbaiki pH tanah gambut dan ketersediaan nutrisi untuk tanaman. Dengan penggunaan Biopeat, produktivitas pertanian dan perkebunan dapat meningkat. Seperti diketahui, lahan gambut tropis mengandung asam-asam organik yang tinggi, hasil degradasi lignin dari pelapukan tanaman dan menyebabkan tanah gambut menjadi bersifat masam. Guna memperbaiki kemasaman tanah gambut tersebut, mikroba potensial dalam Biopeat mampu mengkonversi asam-asam organik di tanah gambut menjadi sumber karbon yang diperlukan tanaman untuk pertumbuhannya.

Produk Biopeat telah diuji coba dibanyak area lahan gambut sejak tahun 2010, diantaranya di kecamatan Pulau Sambu, kabupaten Indragiri Hilir, Riau. Uji coba yang dikerjasamakan dengan PT. Riau Sakti United Plantations (RSUP) telah terbukti meningkatkan produktivitas tanaman hortikultura seperti nanas, buah naga, sayuran dan jagung, serta mengurangi penggunaan pupuk anorganik sebesar 30%. 

Penerapan Biopeat pada komoditi tanaman pangan dan buah-buahan dapat memberi peluang yang menjanjikan guna menjaga pasokan bahan baku industri makanan dan minuman. Tingginya PDB dari industri makanan dan minuman tidak lepas dari peran petani yang telah menyediakan bahan baku untuk industri tersebut. Dengan terobosan teknologi BioPeat ini, harapannya akan membantu petani dalam meningkatkan jumlah produksi pertaniannya yang akan diserap oleh industri makanan dan minuman.

Kedepan, produk Biopeat yang telah lulus uji mutu di Balai Tanah Kementerian Pertanian ini, sedang dijajagi untuk diproduksi secara masal bekerjasama dengan perusahaan pupuk di Indonesia. Harapannya, kebutuhan Biopeat dapat menjadi solusi untuk mencegah terulangnya kebakaran hutan dan lahan yang telah menimbulkan penderitaan bagi masyarakat banyak baik di Indonesia maupun di negara-negara tetangga. 


© 2019 Design by Pusat Manajemen Informasi & Bioindustri - BPPT