• 021 756 0536
  • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Press Release HUT ke 41 BPPT Kedeputian Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi BPPT

 


Indonesia memiliki potensi sumberdaya hayati yang sangat besar. Biodiversitas Indonesia diklaim terbesar kedua dunia setelah Brazil. Potensi besar ini membutuhkan sentuhan inovasi teknologi agar menjadi kekuatan ekonomi yang sesungguhnya. BPPT melalui Kedeputian Teknologi bidang Agroindustri dan Bioteknologi, terus menyiapkan sejumlah terobosan inovasi dan layanan teknologi untuk memberikan solusi nyata bagi permasalahan pangan, kesehatan dan industri ramah lingkungan.

Dalam mengatasi isu pangan, BPPT terus mendorong pemanfaatan bahan baku pati yang berlimpah. Melalui penerapan teknologi olahan pangan berbasis pati yang efisien, handal dan ramah lingkungan, jumlah industri olahan pangan berbasis pati terus meningkat. Tapioka terfermentasi kualitas tinggi (special grade) sebagai salah satu produk andalan mitra BPPT merupakan hasil pengolahan dari bahan baku ubikayu yang diektraksi dan dimanfaatkan patinya. Dengan teknologi fermentasi menggunakan bakteri, sifat fungsional pati alami dari tepung tapioka dapat ditingkatkan. Selain sebagai pengganti tepung beras, dengan kestabilan viskositas yang tinggi, produk tepung tapioka cocok digunakan sebagai bahan baku industri pangan seperti pempek, krupuk, mie, serta cocok untuk pembuatan kue tradisional karena memiliki tektur yang lebih lembut.

Kemampuan BPPT dalam penguasaan teknologi pengolahan pangan terus ditingkatkan. Hasil yang telah dicapai berupa aneka produk pangan berbahan baku lokal yang memiliki fungsi kesehatan, diantaranya produk beras analog dan mie non gluten rendah indeks glikemik. Bahan baku yang digunakan adalah sagu, ubi kayu, jagung dll sehingga cocok dikonsumsi untuk penderita diabetes. Untuk mengatasi masalah kekurangan gizi (stunting) dan pangan untuk darurat bencana, BPPT sukses bersama mitra industri mempopulerkan produk Purula dan Biskuneo. Selain memanfaatkan umbi-umbian, BPPT juga telah mendiseminasikan sistim pasca panen buah untuk memperpanjang masa kesegaran buah, dalam rangka mendukung ekspor buah tropis.

Sumberdaya hayati kelautan juga tidak lepas dari target inovasi BPPT. Baru-baru ini, BPPT bersama mitra industrinya berhasil meluncurkan produk andalan cangkang kapsul berbahan baku rumput laut. Produk ini sangat ditunggu masyarakat karena lebih terjamin ke'halal'an nya dan cocok untuk konsumen vegetarian.

            Dalam menghadapi isu utama di bidang kesehatan, BPPT mengembangkan inovasi teknologi produksi bahan baku obat sintesa dan obat herbal. Saat ini BPPT sedang menyiapkan produk obat sintesa yaitu Dekstrosa Mono Hidrat (DMH) untuk bahan baku Infus, serta antibiotik turunan Sefalosporin (Sefotaksim, Sefiksim dan Seftriakson). Sebagai bahan pengisi (filler) dan pengikat (binder) untuk tablet dari kapsul (produk farmasi), BPPT mengembangkan pati pragelatinasi. Pati pragel merupakan pati yang telah mengalami proses fisika dan mekanik terhadap semua ataupun sebagian granul dengan perlakuan pemanasan dan adanya air yang memungkinkan terjadinya proses deformasi struktur granul, kemudian dilanjutkan dengan proses pengeringan sehingga mempunyai sifat larut dalam air dingin. Bahan baku yang digunakan dalam proses ini adalah pati dari ubikayu yang banyak tersedia di Indonesia.

Untuk meningkatkan sediaan Obat Herbal Terstandar (OHT) dan Fitofarmaka, BPPT mengembangkan teknik budidaya tanaman obat, pembuatan ekstrak terstandar, isolasi senyawa aktif, pengujian preklinik (in vitro dan in vivo), pembuatan sediaan, up scaling dn uji klinik bersama mitra. Beberapa prototipe sediaan OHT yang telah dihasilkan adalah Antidiabetes, anti Asam Urat, Antikolesterol, Fitoestrogen, Immunostimulan, Immunosurveillance, dan peluruh Batu Ginjal. OHT antikolesterol saat ini sedang dalam tahap persipan uji klinik untuk menuju Fitofarmaka. Guna memuluskan hilirisasi hasil pengembangannya, BPPT saat ini tengah menjalin kemitraan dengan industri farmasi lokal dan regional. Dengan kompetensi di bidang bioteknologi serta didukung fasilitas yang memadai, BPPT melibatkan PT. Kimia Farma-Sungwun Pharmacopia dan lembaga internasional JICA dan AMED untuk substitusi impor bahan baku obat.

Sementara untuk meningkatkan sediaan biofarmasetika, BPPT melakukan pengembangan sediaat Kit Rapid Test Demam Berdarah Dengue, sediaan berbasis Condition Medium Stem cell (Hydrogel Transdermal Patch) untuk penyembuh luka dan adjuvant vaksin. Bersama PT. Kimia Farma (Persero) Tbl, Kit Rapid Test Demam Berdarah Dengue dalam waktu dekat akan diproduksi secara komersial untuk memperkuat diagnosis penyakit demam berdarah di masyarakat.

Di bidang industri pakan ternak, BPPT sedang menyiapkan rencana produksi enzim phytase skala komersial melibatkan pihak swasta. Produksi pakan ternak dalam negeri pada tahun 2018 mencapai 19,4 juta ton dengan kebutuhan enzim phytase sekitar 3,880 ton. Jika diperhitungkan dengan harga impor, nilai kebutuhan enzim pakan ternak ini sebesar Rp 272 Milyar. Enzim pakan ternak ini sebagian besar masih diimpor dari beberapa negara seperti China, Denmark, Canada dan India. Enzim sebagai produk biologi berfungsi untuk mempercepat suatu reaksi kimia tertentu (biokonversi) dengan substrat yang spesifik. Penerapan dan pemanfaatan enzim di industri dewasa ini sangat luas dan beragam sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan industri. Selain produk enzim untuk pakan ternak, BPPT juga berkolaborasi dengan mitra industri untuk memproduksi enzim perontok bulu kulit, pengurai tinta kertas daur ulang, dan deproteinasi lateks, dsb. 

Untuk mengatasi isu lingkungan, BPPT telah merekayasa mikroba potensial sehingga dimanfaatkan untuk meningkatkan pH tanah gambut. Fungsinya yang sangat spesifik tersebut dapat menjadi solusi secara bioteknologi dalam mengurangi pembakaran lahan gambut untuk lahan pertanian. Produk yang telah dipatenkan dan diberi nama BioPeat ini telah memenuhi standar pembenah hayati Kementerian Pertanian. Produk ini mempunyai peluang yang cukup baik dalam rangka mendukung program nasional yaitu pemanfaatan lahan gambut tanpa pembakaran. Saat ini produk telah diujicobakan di lahan gambut Riau dan sedang disiapkan untuk multi lokasi di wilayah-wilayah lainnya.


© 2019 Design by Pusat Manajemen Informasi & Bioindustri - BPPT