Potensi dan Tantangan Menuju Kemandirian Enzim Nasional


Sebagian besar produk enzim untuk industri (99%) di Indonesia, masih berstatus impor. Apabila perkiraan nilai pasar perdagangan enzim dunia pada tahun 2015 mencapai   4,4  milyar USD, sementara konsumsi enzim untuk industri di dalam negeri dengan pertumbuhan volume 4-6% per tahun, maka diperkirakan mencapai sekitar 2.500 ton pada tahun 2015  dengan nilai impor sebesar Rp 187,5 Milyar. Kebutuhan ini pun cenderung meningkat seiring dengan perkembangan aplikasinya di industri dan kesadaran masyarakat terhadap produk yang ramah lingkungan. Berkaitan dengan hal ini, Pusat Teknologi Bioindustri menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) dengan topik  “ Arah dan Strategi Pengembangan Produk Enzim : Potensi dan Tantangannya Menuju Kemandirian Enzim Nasional “ yang berlangsung minggu lalu di  BPPT.

 

Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi, Listyani Wijayanti dalam sambutannya menjelaskan bahwa FGD ini sangat penting dan strategis karena melibatkan berbagai pihak dengan berbagai disiplin ilmu, mulai dari perguruan tinggi, lembaga litbang dan mitra industri yang diharapkan dapat memberikan kontribusi positif bagi pengembangan produk enzim dan industrinya di masa depan.

Lebih lanjut, Listyani menjelaskan bahwa untuk mewujudkan kemandirian enzim tersebut perlu adanya semangat dan komitmen bersama untuk melakukan perubahan. “Perubahan amatlah penting, untuk menjawab tantangan perubahan itu, inovasi teknologi sangatlah dibutuhkan. Saat ini bangsa Indonesia sedang mengubah status dari efficiency-driven economies menjadi innovation  driven economies yaitu pembangunan ekonomi yang didasarkan pada inovasi,” ungkapnya.

Dengan demikian, lanjutnya, inovasi teknologi menjadi kata kunci dan salah satu alat untuk mewujudkan kemajuan, kemandirian dan kesejahteraan bangsa. Dalam kerangka sistem inovasi, dibutuhkan adanya sinergi positif ABG (Academician, Business, Government) yaitu antara lembaga penyedia teknologi, pemerintah yang mengatur regulasinya dan pihak industri sebagai pengguna teknologi untuk secara bersama-sama dan bersinergi melakukan kegiatan pengembangan dan penerapan teknologi dalam rangka mendukung pembangunan nasional.

Menambah pernyataan Deputi TAB, Direktur Pusat Teknologi Bioindustri (PTB-BPPT), Retno Dumilah Esti Widjayanti menyampaikan bahwa FGD ini dilaksanakan untuk berbagi dan menggali informasi terkini tentang produk enzim, baik dari aspek teknologi, ketersediaan maupun permintaannya di pasar lokal maupun global.  “FGD ini dilaksanakan dalam rangka mewujudkan kemandirian enzim nasional. Masukan dari para  pemangku kepentingan diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menyusun program strategis (Renstra) PTB BPPT 2015 – 2019,” katanya.

Perlu diketahui FGD ini menyajikan banyak informasi dari narasumber berkompeten terkait kebutuhan dan pemanfaatan enzim di industri pangan, farmasi, pakan ternak, industri pulp dan kertas. Selanjutnya juga dibahas mengenai isu kehalalan enzim dari sumber hewani dan enzim rekombinan sebagai salah satu solusinya. Dari FGD ini juga diharapkan muncul  dukungan dan respon positif serta sinergi dari pemangku kebijakan, terkait penggunaan enzim lokal sebagai substitusi kebutuhan enzim yang nyatanya masih diimpor perlu ABG (Academician, Business, Government) yang kuat dan berkelanjutan untuk mewujudkan kemandirian  produk enzim sempat mengemuka di dalam forum diskusi.

Menutup sambutannya, Deputi TAB kemudian menyatakan bahwa beberapa produk bioteknologi yang telah dikembangkan BPPT dan lembaga litbang siap untuk diaplikasikan dan perlu mendapat respon positif dari dunia industri agar produk dan teknologi yang telah dikuasai dapat dikembangkan lebih lanjut pada skala komersial. “Dalam kaitan ini, BPPT yang mengembangkan inovasi teknologi berbasis kemitraan, kedepan akan semakin proaktif untuk merapat ke industri dalam rangka mendukung pemanfaatan dan komersialisasi hasil rekayasa teknologi,” tegasnya. (tab/SYRA/humas).