PRESS RELEASE PERESMIAN UNIT PRODUKSI, LAUNCHING PRODUK BIOPEAT DAN PENANDATANGANAN MoU antara BPPT, Pemkab Indragiri Hilir, UNISI dan PT. RSUP Pulau Burung, 8 Agustus 2018


Keterbatasan lahan produktif untuk tanah pertanian saat ini menjadi salah satu kendala pemerintah dalam meningkatkan produksi pertanian dan mempertahankan swasembada pangan. Program ekstensifikasi tanah pertanian dengan memanfaatkan lahan marginal seperti lahan gambut menjadi alternatif yang menjanjikan untuk ditindaklanjuti, karena Indonesia memiliki lahan gambut sangat luas, keempat terbesar di dunia (20,6 jutaHa) setelah Kanada (170 juta Ha), Rusia (150 Ha), dan AS (40 juta

 

Ha) yang tersebar di wilayah Sumatera, Kalimantan dan Papua. Namun berbagai kendala seperti karakteristik lahan gambut yang memiliki pH sangat rendah menjadikan lahan gambut sulit digunakan sebagai lahan pertanian yang produktif. Jika keliru dalam pengelolaannya, seperti membuka lahan dengan cara membakar dan sebagainya, pemanfaatan lahan gambut bisa memicu permasalahan serius seperti kebakaran dan pencemaran udara. Untuk itu diperlukan terobosan teknologi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan untuk dapat memanfaatkan lahan gambut sebagai lahan produktif.

Inovasi teknologi yang saat ini dikembangkan BPPT dalam rangka memanfaatkan lahan gambut tanpa bakar untuk pertanian adalah melalui sentuhan bioteknologi dengan memanfaatkan mikroorganisme lokal (indigenous). Rekayasa terhadap mikroorganisme potensial tersebut dilakukan untuk meningkatkan produktivitas pertanian/perkebunan melalui peningkatan pH tanah gambut dan ketersediaan nutrisi tanaman. Seperti diketahui lahan gambut tropis mengandung asam-asam organik yang tinggi, hasil degradasi lignin daripelapukan tanaman dan  menyebabkan pH tanah gambut menjadi rendah. Guna meningkatkan pH tanah gambut melalui aplikasi mikroba, BPPT telah merekayasa mikroba potensial dari lahan gambut yang mampu menggunakan asam-asam organik sebagai sumber karbon untuk pertumbuhannya. Produk hasil inovasi ini menjadi pupuk hayati yang mengandung mikroba potensial untuk memperbaiki produktivitas lahan gambut serta produktivitas tanaman dan dipopulerkan dengan nama BioPeat. Dengan aplikasi pupuk hayati BioPeat pada tanah gambut, terbukti mampu meningkatkan pH tanah dari rata-rata pH 3,9 menjadi sekitar pH 5. Dengan meningkatnya pH tanah gambut maka peluang mikroba penyubur tanah lainnya yang dapat  bertahan hidup dilingkungan tanah gambut juga ikut meningkat, sehingga tanah gambut menjadi lebih subur.

Inovasi ini dimulai dari kajian teknologi mikroba gambut untuk memperbaiki produktivitas lahan sub optimal masam khususnya lahan gambut sejak tahun 2010. Hasil kajian kemudian dikembangkan bersama dengan PT. Riau Sakti United Plantations (RSUP) menghasilkan Produk BioPeat yang telah teruji kemampuannya dalam meningkatkan pH lahan gambut. Uji aplikasi produk BioPeat telah dilakukan pada beberapa tanaman seperti nenas, buah naga, sayuran dan jagung baik di lahan percobaan PT. RSUP maupun di lahan petani. Teknologi BioPeat terbukti dapat meningkatkan produktivitas tanaman jagung sebesar 45% dan mengurangi penggunaan pupuk anorganik sebesar 30%. Aplikasi teknologi BioPeat juga terbukti dapat meningkatkan grade buah Nanas sebesar 31% dan meningkatkan nilai brix buah Naga rata-rata mencapai 15%. Sementara nilai brix buah Naga di pasaran rata-rata hanya mencapai 11. Hal ini tentu menjadi peluang yang besar untuk peningkatan produktivitas buah-buahan dan hortikultura.

 

Sementara itu, untuk pengembangan sektor industri, Pemerintah terus berupaya menjaga ketersediaan bahan baku yang dibutuhkan industri makanan dan minuman agar semakin produktif dan berdaya saing global. Kementerian Perindustrian mencatat, sumbangan industri makanan dan minuman kepada PDB industri non-migas mencapai 34,95 persen pada triwulan III tahun 2017. Hasil kinerja ini menjadikan sektor tersebut kontributor PDB industri terbesar dibanding subsektor lainnya.Aplikasi Biopeat pada komoditi tanaman pangan dan buah-buahan dapatmemberi peluang yang menjanjikan guna menjaga pasokan bahan baku industri makanan dan minuman. Tingginya PDB dari industri makanan dan minuman tidak lepas dari peran petani yang telah menyediakan bahan baku untuk industri tersebut. Dengan terobosan teknologi BioPeat ini, harapannya akan membantu petani dalam meningkatkan jumlah produksi pertaniannya yang akan diserap oleh industri makanan dan minuman.

 

 Untuk mendukung pengembangan dan penerapan teknologi BioPeat serta pemanfaatan hasil-hasilnya kepada masyarakat, PT. RSUP telah membangun Laboratorium dan Pusat Informasi Teknologi BioPeat (LPITBio) dan Unit Produksi BioPeat dengan dukungan teknologi dari BPPT. LPITBio ini merupakan tempat untuk melakukan riset pengembangan produk BioPeat dan sekaligus sebagai pusat informasi dan edukasi (Education Center) bagi para petani lahan gambut untuk mengenal dan memahami teknologi BioPeat sehingga dapat mengaplikasikannya untuk pertanian lahan gambut tanpa melakukan pembakaran. Ketersediaan produk BioPeat didukung oleh PT. RSUP dengan membangun unit produksi berkapasitas 600 ton/tahun sebagai model percontohan untuk di dikembangkan lebih lanjut dalam skala yang lebih besar. Unit ini mengolah limbah nenas dari pabrik pengalengan nenas (Sambu Group) sebanyak 15 ton/hari dan diproses lebih lanjut secara fermentasi selama 2 – 4 minggu menjadi BioPeat. Sampai saat ini, diperkirakan 40 – 50 ton produk BioPeat telah diujicobakan kepada para petani lahan gambut sekitar perusahaan untuk budidaya pertanian seperti cabe, bawang merah dan jagung serta memberikan hasil yang cukup menggembirakan. Kedepan, program ini diharapkan dapat dilakukan secara berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan dan pendapatan petani dengan meningkatnya hasil produksi pertanian para petani.

 

Dalam rangka mendukung program pemerintah “PaJaLe” yaitu Padi, Jagung dan Kedele khususnya di Kabupaten Indragiri Hilir yang memiliki luasan lahan gambut terbesar di Provinsi Riau, maka peresmian unit produksi ini dan launching produk BioPeat yang akan dilakukan oleh Kepala BPPT pada tanggal 8 Agustus 2018 di Pulau Burung dan dihadiri oleh Bupati Indragiri Hilir, Rektor UNISI dan undangan/pihak terkait lainnya, merupakan titik awal untuk mengembangkan suatu Pilot Project Penerapan Teknologi BioPeat untuk Produksi Pertanian dan Perkebunan di Lahan Gambut secara nasional. Pilot Project ini akan diawali dengan scaling up dari demplot uji aplikasi BioPeat pada tanaman jagung yang telah dilakukan sebelumnya pada akhir 2017. Kegiatan ini akan melibatkan kerjasama dan sinergi antara BPPT, Pemkab Inhil, Universitas Islam Indragiri (UNISI) dan PT. RSUP dan akan dituangkan dalam suatu Nota Kesepahaman (MoU) yang akan ditandatangani bersamaan dengan peresmian unit produksi BioPeat.

Kerjasama ini merupakan wujud konkrit dari sinergi ABG (Academic, Business & Government) untuk mendukung inovasi dan hilirisasi teknologi yang berdampak kepada masyarakat. Ke depan, dengan melibatkan dukungan dari berbagai pihak terkait, diharapkan teknologi BioPeat dapat menjadi solusi dan memberikan kontribusi nasional dalam mendukung program Pengelolaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) yang telah dicanangkan oleh pemerintah.